***Welcome My Blog***

Minggu, 19 Desember 2010

Kerajaan Jeumpa





Menurut penelitian para ahli sejarah, diketahui bahwa sebelum datangnya Islam pada awal abad ke 7 M, Dunia Arab dengan Dunia Melayu-Sumatra sudah menjalin hubungan dagang yang erat sejak 2000 tahun SM atau 4000 tahun lalu. Hal ini sebagai dampak hubungan dagang Arab-Cina melalui jalur laut yang telah menumbuhkan perkampungan, Parsia, Hindia dan lainnya di sepanjang pesisir pulau Sumatera.

Letak geografis daerah Aceh sangat strategis di ujung barat pulau Sumatra, menjadikan wilayah Aceh sebagai kota pelabuhan persinggahan yang berkembang pesat, terutama untuk mempersiapkan logistik pelayaran berikutnya dari Cina menuju Persia ataupun Arab dengan menempuh samudra luas. Salah satu kota perdagangan pada jalur tersebut adalah Jeumpa dengan komuditas unggulan seperti kafur, yang memiliki banyak manfaat dan kegunaan.


Kerajaan Jeumpa Aceh, berdasarkan Ikhtisar Radja Jeumpa yang di tulis Ibrahim Abduh, yang disadurnya dari hikayat Radja Jeumpa adalah sebuah kerajaan yang benar keberadaannya pada sekitar abad ke 7 Masehi yang terletak di sekitar daerah perbukitan mulai dari pinggir sungai Peudada di sebelah barat sampai Pante Krueng Peusangan di sebelah timur. Istana Raja Jeumpa terletak di desa Blang Seupeueng yang dipagari di sebelah utara, sekarang disebut Cot Cibrek Pintoe Ubeuet.

Masa itu desa Blang Seupeueng merupakan permukiman yang padat penduduknya dan juga merupakan kota bandar pelabuhan besar, yang terletak di Kuala Jeumpa. Dari Kuala Jeumpa sampai Blang Seupeueng ada sebuah alur yang besar, biasanya dilalui oleh kapal-kapal dan perahu-perahu kecil. Alur dari Kuala Jeumpa tersebut membelah Desa Cot Bada langsung ke Cot Cut Abeuk Usong atau ke "Pintou Rayeuk" (pintu besar).


Menurut legenda yang berkembang di sekitar Jeumpa, sebelum kedatangan Islam di daerah ini sudah berdiri salah satu Kerajaan Hindu Purba Aceh yang dipimpin turun temurun oleh seorang Meurah dan negeri ini sudah dikenal di seluruh penjuru dan mempunyai hubungan perdagangan dengan Cina, India, Arab dan lainnya. Sekitar awal abad ke 8 Masehi datanglah seorang pemuda tampan yang dikenal dengan Shahrianshah Salman al-Farisi atau Sasaniah Salman Al-Farisi sebagaimana disebut dalam Silsilah keturunan Sultan-Sultan Melayu, yang dikeluarkan oleh Kerajaan Brunei Darussalam dan Kesultanan Sulu-Mindanao dan juga disebutkan dalam Silsilah Raja-Raja Aceh Darussalam oleh Dinas Kebudayaan NAD. Sebagian ahli sejarah menghubungkan silsilah Pangeran Salman dengan keturunan dari Sayyidina Hussein ra cucunda Nabi Muhammad Rasulullah saw yang telah menikah dengan Puteri Maharaja Parsia bernama Syahribanun. Dari perkawinan inilah kemudian berkembang keturunan Rasulullah yang telah menjadi Ulama, Pemimpin Spiritual dan Sultan di dunia Islam, termasuk Nusantara, baik di Aceh, Pattani, Sumatera, Malaya, Brunei sampai ke Filipina dan Kepulauan Maluku.


Dikisahkan Pangeran Salman memasuki pusat kerajaan di kawasan Blang Seupeueng dengan kapal niaga dengan segala awak, perangkat dan pengawal serta muatannya yang datang dari Parsi untuk berdagang dan utamanya berdakwah mengembangkan ajaran Islam. Dia memasuki negeri Blang Seupeueng melalui laut lewat Kuala Jeumpa. Sang Pangeran sangat tertarik dengan kemakmuran, keindahan alam dan keramahan penduduknya. Selanjutnya beliau tinggal bersama penduduk dan menyiarkan agama Islam yang telah menjadi anutan nenek moyangnya di Parsia. Rakyat di negeri tersebut dengan mudah menerima ajaran Islam karena tingkah laku, sifat dan karakternya yang sopan dan sangat ramah. Apalagi beliau adalah seorang Pangeran dari negara maju Parsia yang terkenal kebesaran dan kemajuannya masa itu.


Keutamaan dan kecerdasan yang dimiliki Pangeran Salman yang tentunya telah mendapat pendidikan terbaik di Parsia negeri asalnya, sangat menarik perhatian Meurah Jeumpa dan mengangkatnya menjadi orang kepercayaan kerajaan. Karena keberhasilannya dalam menjalankan tugas-tugasnya, akhirnya Pangeran Salman dinikahkan dengan puteri Raja dan dinobatkan menjadi Raja. Setelah menjadi Raja, wilayah kekuasaannya diberikan nama dengan Kerajaan Jeumpa, sesuai dengan nama negeri asalnya di Persia yang bernama "Champia", yang artinya harum, wangi dan semerbak. Sejak saat Kerajaan Islam Jeumpa terkenal dan berkembang pesat menjadi kota perdagangan dan persinggahan bagi pedagang-pedagang Arab, Cina, India dan lainnya.

Kerajaan Jeumpa menjadi maju dan makmur sekaligus menjadi pusat penyebaran ajaran Islam di wilayah Sumatra bahkan Nusantara. Shahrianshah Sal-man al-Farisi memproklamirkan Kerajaan Islam Jeumpa pada tahun 156 H atau sekitar tahun 770 M. Maka tidak diragukan, Kerajaan Jeumpa adalah Kerajaan Islam pertama di seluruh Nusantara.


Tentu di balik kesuksesan Pangeran Salman membangun dan memimpin Kerajaan Jeumpa, didukung oleh seorang Ratu yang sangat berperan. Menurut Silsilah Sultan Melayu dan Silsilah Raja Aceh, Putro Manyang Seulodong atau ada yang menyebutnya dengan Dewi Ratna Keumala adalah istri dari pangeran Salman, anak Meurah Jeumpa yang cantik rupawan serta cerdas dan berwibawa. Putro Jeumpa inilah yang telah mendukung karir dan perjuangan suaminya sehingga berhasil mengembangkan sebuah Kerajaan Islam yang berwibawa, yang kelak melahirkan Kerajaan Islam di Perlak, Pasai, Pedir dan Aceh Darussalam.

Bersama suaminya, Ratu Jeumpa menjalankan kerajaannya sehingga menjadi sebuah kerajaan yang terkenal di dunia internasional dan menjadi kota persinggahan para pedagang-pedagang dari Arab, Parsia, Cina, India dan lainnya. Apalagi geografi Jeumpa sangat strategis yang berdekatan dengan Barus, Lamuri, Fansur yang lebih dahulu berkembang di ujung barat pulau Sumatra.


Di daerah yang sebagai tapak mahligai Kerajaan Jeumpa sekitar 80 meter ke selatan yang dikenal dengan Buket Teungku Keujereun, ditemukan tapak bangunan istana dan beberapa barang peninggalan kerajaan, seperti kolam mandi kerajaan seluas 20 x 20 m, kaca jendela, porselin dan juga ditemukan semacam cincin dan kalung rantai yang panjangnya sampai ke lutut dan anting sebesar gelang tangan. Semua ini tentu menggambarkan kemakmuran dan kemajuan dari Kerajaan Jeumpa 14 abad silam.


Ratu Manyang Seuludong bukan hanya berhasil menjadi pendamping suaminya dalam membangun Kerajaan Jeumpa, tetapi juga berhasil menjadi seorang pendidik yang baik bagi anak-anaknya yang melanjutkan perjuangannya menyebarkan dakwah ajaran Islam. Ratu dikaruniai beberapa putra putri yang dikemudian hari menjadi Raja dan Ratu yang sangat berpengaruh dalam perjalanan sejarah pengembangan Islam di Nusantara.

Anak beliau bernama Syahri Poli adalah pendiri dari Kerajaan Poli yang selanjutnya berkembang menjadi Kerajaan Pidier di wilayah Pidie sekarang yang wilayah kekuasaannya sampai ujung barat Sumatera. Syahri Tanti mengembangkan kerajaan yang selanjutnya menjadi cikal bakal berdirinya Kerajaan Samudra-Pasai. Syahri Dito, yang melanjutkan mengembangkan Kerajaan Jeumpa. Syahri Nuwi menjadi Meurah dan pendiri dari Kerajaan Perlak. Sementara putrinya Makhdum Tansyuri adalah ibu dari Sultan pertama Kerajaan Islam Perlak, Maulana Abdul Aziz Syah yang diangkat pada tahun 840 Masehi.

Kecerdasan dan kecantikan Putro Jeumpa yang diwariskan kepada keturunannya menjadi lambang keagungan putri-putri Islam yang berjiwa penakluk dalam memperjuangkan tegaknya Islam di bumi Nusantara. Tidak diragukan bahwa Putro Manyang Seuludong telah menjadi inspirasi bagi perjuangan para Ratu dan putro-putro Jeumpa sesudahnya. Puteri-puteri Jeumpa telah menjadi lambang kewibawaan para Ratu Islam di istana-istana Perlak, Pasai, Malaka bahkan sampai Majapahit sekalipun.

Perlak Kerajaan Islam I di Asia Tenggara

Telah menjadi catatan para ahli sejarah dan ilmuan terutama Abu Ishak Al-Makarany Pasy bahwa kerajaan Islam-I-Asia Tenggara adalah telah didirikan di Peureulak dengan Ibukotanya, Bandar Khalifah. 

Baginda Sulthan adalah turunan dari Dinasti Sasanit Jazirah Arab Persia pada saat itu diperintah oleh Raja Kisra. Saat itu, dimana seorang Putra dari Dinasti Sasanit Pangeran Salman meninggalkan Tanah Airnya menuju timur jauh dengan dan Asia Tenggara untuk berniaga dan berdakwah dengan kapal dagangnya. 

Saat pertama adalah tiba dan berlabuh di Bandar Jeumpa (Aceh Jeumpa) sekarang. Setelah kapal kembali pulang, Pangeran tidak ikut pulang dan terakhir terpikat dan kawin dengan Putri Jeumpa bernama Putri Mayang Seuleudang, Puteri dari Meurah jeumpa. 

Tiada berapa lama, atas restu Meurah Jeumpa, Pangeran Salman dan Puteri Mayang Seuleudang berangkat ke Negeri Peureulak, kedatangannya adalah diterima oleh Meurah Peureulak. Setelah baginda Meurah Peureulak berpulang ke rahmatullah, Baginda tidak mempunyai anak laki-laki. 

Atas mufakat Pembesar-pembesar Negeri Peureulak serta rakyat, diangkatlah Pangeran Salman menjadi Meurah Peureulak yang baru. Dalam masa Baginda menjadi Meurah Peureulak, negeri menjadi makmur-rakyat sejahtera, ekonomi maju pesat karena hubungan perdagangan dan kapal-kapal asing ramai berdagang ke negeri Peureulak, terutama membeli hasil bumi dan rempah-rempah. 

Pangeran Salman dan Puteri Mayang Seuleudang mempunyai 4 orang putra dan 1 putri, masing-masing adalah :

Syahir Nuwi, kemudian menggantikan ayahnya jadi Meurah Peureulak.
Syahir Tanwi (Puri), kemudian pulang ke negeri Ibunya Jeumpa dan diangkat menjadi Meurah Jeumpa, menggantikan kakeknya yang telah meninggal dunia.
Syahir Puli, merantau ke Barat (Pidie, sekarang) kemudian di negeri itu diangkat menjadi Meurah Negeri Sama Indra (Pidie)
Sayhir Duli, setelah dewasa merantau ke daerah negeri barat paling ujung (Banda Aceh, sekarang), karena kecakapannya diangkat menjadi Meurah Negeri Indra Pura (Aceh Besar, sekarang).
Putri Maghdum Tansyuri 
Berdasarkan hal tersebut diatas, secara geografis dan strategis semua negeri di sepanjang Selat Malaka adalah dalam Pemerintahan Para Meurah keturunan. Dinasti Sasanit pihak ayah dan turunan Meurah Jeumpa dari pihak ibu. Di Acheh, anak cucu dari keturunan ke Empat Meurah disebut “Kaom Imum Peut” (Kaum Imam Empat).

Epilog dari turunan dinasti Sasanit adalah : Pada suatu masa Pemerintahan Daulah Ummayyah, dibawah pimpinan Khalifah Makmun Ibnu Harun Al-Rasyid, telah menindas Partai Syiah yang dipimpin oleh Ali bin Abi Thalib. 

Salah seorang turunan Ali bin Abi Thalib, memberontak terhadap Khalifah Makmun yang berkedudukan di Baghdad dan memproklamirkan dirinya menjadi Khalifah di Mekkah. 

Dengan murka, Sulthan Makmun mengirim pasukan perang untuk memukul mundur Muhammad Jaffar Shiddiq di Mekkah. Para proklamator tersebut kalah dan tidak dibunuh akan tetapi dimaafkan.

Seterusnya, Khalifah Makmun memerintahkan kaum Syiah meluaskan dakwah ke negeri Asia Tenggara-Hindie dan Timur Jauh. Atas dasar itulah, sebuah Armada Angkatan Dakwah beranggotakan 100 orang dibawah pimpinan Nahkoda Khalifah (turunan Qatar) memasuki Bandar Peureulak.

Saat itu, yang menjadi Meurah Peureulak adalah Syahir Nuwi. Salah seorang dari anggota Angkatan Dakwah Ali bin Muhammad bin Jaffar Shiddiq dinikahkan oleh Meurah Peureulak dengan adik kandungnya Putri Maghdum Tansyuri. 

Dari perkawinan inilah lahir seorang Putra, oleh kedua orang tuanya diberi nama Sayed Abdul Aziz. Pada tanggal 1 Muharam 225 H (840 M) dilantik menjadi Raja Kerajaan Islam I Acheh Peureulak dengan gelar Sultan Alaidin Sayed Maulana Abdul Aziz Maghdum Shah dan kawin dengan Putri Maghdum Khadewi. 

Dinasti Kerajaan Islam I Acheh Peureulak adalah mempunyai 19 orang Sulthan mulai dari tahun 840 M-1292 M antara lain adalah sebagai berikut : 

Dinasti Sayed Maulana Abdul Aziz Maghdum Shah 840 M-864 M pendiri Kerajaan Islam I Aceh Peureulak.
1.1 Sulthan Alaidin Sayed Maulana Abdul Aziz Maghdum Shah 840 m-864 M pendiri Kerajaan Islam I Acheh Peureulak.

1.2 Sulthan Alaidin Sayed Maulana Abdul Rahim Shah 864-888 M

1.3 Sulthan Alaidin Sayed Maulana Abbas Shah 888 M-913 M

1.4 Sulthan Alaidin Sayed Maulana Ali Mughayat Shah 915 M-918 M 

Dinasti Maghdum Johan Berdaulat (Shiah) Peureulak pesisir 928-986 M
2.1 Sulthan Maghdum Alaidin Malik Abdul Kadir Shah Johan berdaulat 928 M-932 M

2.2 Sulthan Maghdum Alaidin Malik Muhammad Amin Shah Johan berdaulat 932 M-965 M. Baginda dikenal dengan nama TEUNGKU COT KALA, adalah Pendiri Perguruan Tinggi Zawiyah Cot Kala di (Bayeun) saat ini dengan pendidikan lengkap-agama-filsafat-dan militer

2.3 Sulthan Maghdum Alaiddin Abdul Malik Shah Johan Berdaulat 956-976 M

2.4 Sulthan Alaiddin Sayed Maulana Shah 976 M-986 M 

Dinasti Maghdum Alaidin Malik Ibrahim Shah Johan Berdaulat 986-1292 M.
3.1 Sulthan Maghdum Alaiddin Malik Ibrahim Shah Johan Berdaulat 986 M-1012 M. Pada tahun 986 M-1006 M, selama 20 tahun Kerajaan Islam Acheh Peureulak berperang melawan aggressor Sri Wijaya, dan pada akhirnya tentara Sri Wijaya menarik diri dari Peureulak karena menghadapi serangan Dharmawangsa dari Pulau Jawa.

3.2 Sulthan Maghdum Alaiddin Malik Mahmud Shah Johan Berdaulat 1012 M-1059 M

3.3 Sulthan Maghdum Alaiddin Malik Manshur Shah Johan Berdaulat 1059 M-1078 M

3.4 Sulthan Maghdum Alaiddin Malik Abdullah Shah Johan Berdaulat 1078 M-1109 M

3.5 Sulthan Maghdum Alaiddin Malik Ahmad Shah Johan Berdaulat 1109 M-1135 M

3.6 Sulthan Maghdum Alaiddin Malik Mahmud Shah Johan Berdaulat 1135 M-1160 M

3.7 Sulthan Maghdum Alaiddin Malik Usman Shah Johan Berdaulat 1180 M-1173 M

3.8 Sulthan Maghdum Alaiddin Malik Muhammad Shah Johan Berdaulat 1173 M- 1200 M

3.9 Sulthan Maghdum Alaiddin Abdul Jalil Shah Johan Berdaulat 1200 M-1230 M

3.10 Sulthan Maghdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Shah II Johan Berdaulat 1230 M-1267 M. Baginda tidak mempunyai Putera, tapi mempunyai puteri, yaitu :

3.10.1. Puteri Ratna Keumala, dikawinkan dengan Raja Malaka, Sulthan Muhammad Shah atau bergelar Para Meswara

3.10.2. Puteri Ganggang, dikawinkan dengan Sulthan Malik Al-Salih Meurah Siloo-Sultan Negeri Samudera Pasai yang memerintah Pasai 1261 M-1289 M, mangkat pada tahun 1291 M.

Dari sinilah mulai terbina poros Kerajaan-kerajaan Islam –Kerajaan Islam Aceh Peureulak – Pasei dan Malaka di Tanah Melayu. 

3.11 Sulthan Maghdum Alaiddin Malik Abdul Aziz Shah Johan Berdaulat 1263 M-1292 M. Baginda adalah penghabisan Sulthan Peureulak, karena disatukan Kerajaan Islam Pasei, dibawah pimpinan Sulthan Muhammad Malik Az-Zahir (Putra Meurah Siloo dengan Putri Ganggang atau cucunda Sulthan Maghdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Shah II Berdaulat dari Kerajaan Islam Acheh Peureulak). 

Bila kita kenang kembali, umur kota Peureulak saat ini adalah 1167 tahun. Setelah Kerajaan Islam Peureulak disatukan kedalam Kerajaan Islam Pasei, di Peureulak sendiri di perintah oleh Hulubalang (Ampon Chik) dan yang terakhir adalah Ampon Tjhik Tuha dan generasi seterusnya adalah Teuku Tjhik Muhammad Thayeb ananda Ampon Tjhik Tuha atau nenekanda dari Bapak Teuku Hadi Thayeb mantan Gubernur Acheh. 

Diseluruh persada bumi Acheh adalah terdapat kerajaan-kerajaan Negeri itu sendiri yang diperintah oleh masing-masing Raja, yang nantinya menjadi suatu mata rantai berdirinya Negara Kerajaan Islam, Acheh Darussalam, antara lain adalah :

Kerajaan Islam I Acheh Peureulak 840 M-1292 M
Kerajaan Islam Samudera Pasai, Sulthan yang pertama adalah Maharaja Muhammad Shah 1042 M-1078 M (Kerajaan Salasari)
Kerajaan Islam Beunua Teuming, dengan Raja I adalah Meurah Gajah 1184 M-1203 M dan yang terakhir adalah Pendekar Sri Meungkuta dari Alas 1528 M-1558 M.
Wilayah Kerajaan Islam Teuming adalah meliputi – Teumig Negeri Alas - Negeri Isak (Gayo).

Kerajaan Pidie (Shahir Puli) dan Sama Indra dengan sulthannya adalah Sulthan Maarif Shah Baginda mangkat 18 Spetember 1951 M-Nisan-Keulibeut Pidie.
Kerajaan Islam Acheh Indera Purba (Lamuri) Darussalam – Sulthan I adalah Sulthan Alaidin Shah 1205 M- 1273 M
Kerajaan Islam Meureuhom Daya – 1205 M dengan Sulthan I adalah Alaiddin Johan Shah di Daya Lam No (Aceh Barat).
Jelaslah kepada kita semua bahwa, penyatuan Kerajaan-kerajaan Islam Aceh di bumi persada Aceh adalah pertama telah dilakukan dari zaman dahulu kala dengan sistem masing-masing kerajaan adalah mengatur negeri dan pemerintahannya masing-masing, baik Sipil dan Militer (Pertahanan) dan mengangkat perangkat pemerintahannya.

Hal tersebut diatas adalah sama dengan praktek Tata Negara yang dilakukan di Benua Amerika, Inggris-Eropa dan Malaysia saat ini. Amerika dengan sistim Negara Bahagiannya, Inggris dengan sistem Negara persemakmurannya (Commonwealth) dan Malaysia dengan Negara Bahagiannya dimana Kepala Negeri adalah Sulthan dan Yang Dipertuan Agung sebagai Malikul Adilnya.

Ini kesemuanya, telah dipraktekkan dalam atur Tata Negara Kerajaan Islam Aceh dan ini berarti juga bahwa peradaban Bangsa Aceh ada setelah Peradaban bangsa Eropa.

Demokrasi adalah telah tumbuh subur dipraktekkan dalam kerajaan Islam Acheh di seluruh Bumi Acheh. 

Kini jelaslah kepada kita bahwa - Kerajaan Islam –I – Asia Tenggara (Peureulak) dimulai pada 840 M sampai dengan Sulthan Maghdum Alaiddin Malik Abdul Aziz Shah Johan berdaulat adalah terakhir tahun 1292 M. Artinya, Dinasti Islamiyah di Peureulak telah Berjaya selama 452 tahun lamanya.

Selanjutnya, seluruh Kerajaan disatukan menjadi Kerajaan Islam Aceh Darussalam di bawah kepemimpinan Sultan Alaidin Mahmud II Johan Shah – 1205 – 1234 M – Baginda adalah Sulthan – Pertama – Kerajaan Aceh Darussalam – masih keturunan Sulthan – Kerajaan Islam – I – Peureulak – Dinasti – Sayed Maulana.

Kerajaan Islam Aceh Darussalam diawali pada tahun 1205 M sampai dengan Sulthan Alaiddin Muhammad Daod Shah II – 1873 – 1907 M atau s/d masuknya Jepang 1942 – kemudian Aceh melawan Belanda sejak 1873 s/d 1941 masuk jepang = 69 tahun Aceh berperang dengan Belanda, maka usia Dinasti Islamiyah di Aceh adalah berkuasa dari I Muharam 840 M s/d 1941 =1101 tahun lamanya.

Sejarah Berdirinya Kota Banda Aceh


Kerajaan Aceh Darussalam dibangun diatas puing-puing kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha seperti Kerajaan Indra Purba, Kerajaan Indra Purwa, Kerajaan Indra Patra dan Kerajaan Indra Pura. Dari penemuan batu-batu nisan di Kampung Pande yang salah satunya adalah batu nisan Sultan Firman Syah cucu dari Sultan Johan Syah diperoleh keterangan bahwa Banda Aceh adalah ibukota Kerajaan Aceh Darussalam yang dibangun pada hari Jum'at, tanggal 1 Ramadhan 601 H ( 22 April 1205 M) yang dibangun oleh Sultan Johan Syah setelah berhasil menaklukkan Kerajaan Hindu/Budha Indra Purba dengan ibukotanya Bandar Lamuri. Tentang Kota Lamuri ada yang mengatakan ia adalah Lam Urik sekarang terletak di Aceh Besar. Menurut Dr. N.A. Baloch dan Dr. Lance Castle yang dimaksud dengan Lamuri adalah Lamreh di Pelabuhan Malahayati (Krueng Raya sekarang). Sedangkan Istananya dibangun di tepi Kuala Naga (kemudian menjadi Krueng Aceh) di Kampung Pande sekarang ini dengan nama "Kandang Aceh". Dan pada masa pemerintahan cucu Sultan Alaidin Mahmud Syah, dibangun istana baru di seberang Kuala Naga (Krueng Aceh) dengan nama Kuta Dalam Darud Dunia (dalam kawasan Meligoe Aceh atau Pendopo Gubernur sekarang) dan beliau juga mendirikan Mesjid Djami Baiturrahman pada tahun 691 H.
Banda Aceh Darussalam sebagai ibukota Kerajaan Aceh Darussalam dan kini merupakan ibukota Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam telah berusia 803 tahun (tahun 2008 M) dan merupakan salah satu kota Islam tertua di Asia Tenggara. Seiring dengan perkembangannya Kerajaan Aceh Darussalam dalam perjalanan sejarahnya telah mengalami masa gemilang dan masa-masa suram yang menggentirkan.
Adapun masa gemilang Kerajaan Aceh Darussalam yaitu pada masa pemerintahan "Sultan Alaidin Ali Mughayat Syah, Sultan Alaidin Abdul Qahhar (Al Qahhar), Sultan Alaidin Iskandar Muda Meukuta Alam dan Sultanah Tajul Alam Safiatuddin".
Sedangkan masa percobaan berat, pada masa Pemerintahan Ratu yaitu ketika golongan oposisi "Kaum Wujudiyah" menjadi kalap karena berusaha merebut kekuasaan menjadi gagal, maka mereka bertindak liar dengan membakar Kuta Dalam Darud Dunia, Mesjid Djami Baiturrahman dan bangunan-bangunan lainnya dalam wilayah kota.
Kemudian Banda Aceh Darussalam menderita penghancuran pada waktu pecah "Perang Saudara" antara Sultan yang berkuasa dengan adik-adiknya, peristiwa ini dilukiskan oleh Teungku Dirukam dalam karya sastranya, Hikayat Pocut Muhammad.
Masa yang amat getir dalam sejarah Banda Aceh Darussalam pada saat terjadi Perang Di jalan Allah selama 70 tahun yang dilakukan oleh Sultan dan rakyat Aceh sebagai jawaban atas "ultimatum" Kerajaan Belanda yang bertanggal 26 Maret 1837. Dan yang lebih luka lagi setelah Banda Aceh Darussalam menjadi puing dan diatas puing kota Islam yang tertua di Nusantara ini. Belanda mendirikan Kutaraja sebagai langkah awal dari usaha penghapusan dan penghancuran kegemilangan Kerajaaan Aceh Darussalam dan ibukotanya Banda Aceh Darussalam.
Sejak itu ibukota Banda Aceh Darussalam diganti namanya oleh Gubernur Van Swieten ketika penyerangan Agresi ke-2 Belanda pada Kerajaan Aceh Darussalam tanggal 24 Januari 1874 setelah berhasil menduduki Istana/Keraton yang telah menjadi puing-puing dengan sebuah proklamasinya yang berbunyi:
Bahwa Kerajaan Belanda dan Banda Aceh dinamainya dengan Kutaraja, yang kemudian disahkan oleh Gubernur Jenderal di Batavia dengan beslit yang bertanggal 16 Maret 1874, semenjak saat itu resmilah Banda Aceh Darussalam dikebumikan dan diatas pusaranya ditegaskan Kutaraja sebagai lambang dari Kolonialisme.
Pergantian nama ini banyak menimbulkan pertentangan di kalangan para tentara Kolonial Belanda yang pernah bertugas dan mereka beranggapan bahwa Van Swieten hanya mencari muka pada Kerajaan Belanda karena telah berhasil menaklukkan para pejuang Aceh dan mereka meragukannya.
Awal Penetapan Kota Banda Aceh
Setelah 89 tahun nama Banda Aceh Darussalam telah dikubur dan Kutaraja dihidupkan, maka pada tahun 1963 Banda Aceh dihidupkan kembali, hal ini berdasarkan Keputusan Menteri Pemerintahan Umum dan Otonomi Daerah bertanggal 9 Mei 1963 No. Des 52/1/43-43. Dan semenjak tanggal tersebut resmilah Banda Aceh menjadi nama ibukota Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan bukan lagi Kutaraja hingga saat ini.
Sejarah duka Banda Aceh ketika bencana gempa dan tsunami melanda Aceh pada hari Minggu tanggal 26 Desember 2004 jam 7.58.53 telah menghancurkan sepertiga wilayah Banda Aceh. Ratusan ribu jiwa penduduk menjadi korban bersama dengan harta bendanya menjadi mimpi buruk bagi warga Banda Aceh. Bencana gempa dan tsunami dengan kekuatan 8,9 SR tercatat sebagai peristiwa sejarah terbesar di dunia dalam masa dua abad terakhir ini.
Kini Banda Aceh telah mulai pulih kembali, kedamaian telah menjelma setelah perjanjian damai di Helsinki antara pemerintah RI dan GAM seiring dengan proses rehabilitasi dan rekontruksi Banda Aceh yang sedang dilaksanakan. Pemerintah Aceh kembali membangun Banda Aceh yang dilakukan oleh pemerintah pusat melalui Badan Pelaksana Rehabilitasi dan Rekontruksi Aceh dan Nias (BRR) serta bantuan dari badan-badan dunia dan berbagai Negara Donor bersama lembaga asing maupun lokal. Pemerintah Aceh juga telah menetapkan kebijakan-kebijakan pembangunan yang disepakati bersama DPRD Aceh yang dituangkan dalam Rencana Strategis Kota Banda Aceh tahun 2005-2009, selanjutnya dituangkan dalam program kegiatan tahunan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kota Banda Aceh. Dengan kedamaian yang telah diraih ini dan melalui proses rehabilitasi dan reknstruksi, Banda Aceh mulai bangkit kembali, cahaya terang membawa harapan untuk meraih cita-cita bagi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat.

Riwayat Ultimatum Belanda

Monday, March 29, 2010 1:10 AM




Yusra Habib Abdul Gani






Ultimatum Belanda kepada Aceh (26/03/1873), hari ini (26/03/2010) genap 137 tahun. Setelah Yew York Times (6/5/ 1873, London Times (April,1873) dan Basirat (surat kabar terkemuka Turki) mengulas secara rinci mengenai latar belakang perang Aceh, baru diketahui bahwa ultimatum yang berisi: (1). Turunkan bendera Aceh dan naikkan Bendera Belanda (warna merah, putih dan biru); (2). Aceh menyerah tanpa syarat kepada Belanda; (3). Serahkan seluruh bagian Sumatera yang berada dalam perlindungan Kesultanan Aceh; (4). Hentikan melalun di Selat Melaka; (5). Putuskan hubungan diplomatik dengan Kesultanan Usmaniyah di Turki, hanya diberi masa satu jam kepada Sultan Aceh untuk memberi jawaban. Setelah Mahmudsyah (Sultan Aceh) mengadakan sidang darurat Kabinet, jawabannya tegas: „menolak ultimatum dan Aceh siap perang.“

Ultimatum ini hanyalah klimaks dari upaya diplomasi yang buntu, sesudah sebelumnya diadakan rundingan antara antara Aceh-Belanda, dimana Turki sebagai mediator. Waktu itu, Belanda meminta kepada pihak mediator agar pembicaraan soal tuduhan Belanda yang diada-adakan itu, dilakukan secara langsung, tetapi Aceh menolak dan tetap mempercayakan Turki sebagai pihak penengah.

Rupanya, dua tahun sebelum meletus perang 1873 (artinya: sesudah Belanda-Inggeris menyepakati „Traktat London“ 1871); sebuah kapal perang Belanda merapat di perairan Aceh. Utusan Panglima perang Belanda turun ke darat dan menyampaikan pesan berisi: „Aceh mesti menyerah kepada Belanda dan atau memberi satu kota, tempat Belanda mangkal.“ Sehubungan dengan itu, juru runding Aceh naik ke atas kapal menjumpai Paglima perang Belanda dan menyampaikan amanah Sultan Aceh sbb: „Aceh adalah suatu negara merdeka dan aliansi dari Daulah Osmaniyah Turki. Jadi soal ini akan kami beritahu terlebih dahulu kepada pemerintah Turki.“ Sesudah itu kapal perang Belanda meninggalkan perairan Aceh. Demikian ulasan Basirat yang dikutip oleh Yew York Times, pada (6/5/1873

Nieuwhagen (ketua juru runding Belanda) secara sepihak menyampaikan laporan kepada Turki bahwa: kalau kapal dagang Aceh melintasi Selat Melaka, tak ada masalah. Tapi Aceh sering melanun di Selat Melaka dan hal ini merugikan kepentingan ekonomi Belanda. Bagaimanapun, Turki tidak mau pasang sebelah telinga dan perlu mendengar laporan dari pihak Aceh. Atas perintah Sultan, juru runding Aceh yang ulang-alik Aceh-Istambul, menyampaikan laporan bahwa: Belandalah yang kurang ajar dan sering memperlihatkan sikap arogan di Selat Melaka dan Sumatera. Misalnya: „Perjanjian Siak“ tahun 1958, dimana Sultan Siak dipaksa menyerah kepada Belanda, sementara Siak –dalam hubungannya dengan alliansi pertahanan keamanan Sumatera– berada diatas pundak Kesultanan Aceh. Aceh bagaimanapun, tetap melakukan patroli laut dengan kapal laut berbendera perang Aceh melintasi pantai-pantai Utara dan Selatan Sumatera dengan maksud mengurangi arogansi Belanda. Kerap terjadi bentrokan antara Angkatan Laut Belanda dengan Angakatan Laut Aceh. Patroli Angkatan Laut Belanda beberapa kali merampas bendera dan menahan kapal perang Angkatan Laut Aceh. Sebaliknya, Angkatan Laut Acehpun membalasnya dengan merampas kapal-kapal dagang Belanda, melucuti serdadu Belanda, membakar kapal-kapal dan pelabuhan-pelabuhan yang dikuasai Belanda di Sumatera. Demikian juga Perjanjian Belanda-Sultan Deli, tahun 1858. Salah satu pointnya: „Sultan Deli mesti memutuskan hubungan diplomatik dan ekonomi dengan Kesultanan Aceh.“ Ini sudah tentu memicu konflik di Selat Melaka dan Sumatera. Padahal dalam ”Traktat London”, tahun 1824, salah satu pointnya menyebut: ”Belanda harus menjamin keamanan di perairan Aceh, tanpa mengganggu kedaulatan negara Aceh. Inggeris-Belanda tetap menghormati dan menjaga neutralitas dengan Aceh. Mereka tahu kedudukan dan pengaruh Aceh sangat menentukan di Selat Melaka. Apalagi, pada 30/03/1857, antara Aceh–Belanda sudah disepakati suatu perjanjian perdagangan bilateral demi menghormati kemerdekaan Aceh dan menumbuhkan rasa persahabatan dan perdagangan. (Baca: Whitney Smith PhD. The Flag Bulletin September-October 2001. No. 201, volume XL.no 5, p. 190.) Argumentasi juru runding Aceh yang sangat logis, jitu dan akurat itu disampaikan berdasarkan amanah Sultan Aceh. [Hal ini berbeda dengan kualitas juru runding Aceh: Malik Mahmud, Zaini Abdullah, Bakhtiar Abdullah, Nurdin Abdurrahman dan Nur Juli dalam perundingan Helsinki, yang tidak memegang amanah pemimpin. Mereka mengaku bahwa: setiap perkembangan yang terjadi di meja runding, dilaporkan kepada Wali Negara. Ternyata W.N (Tgk. Hasan M. Di Tiro) baru mengetahui setelah diberitahu oleh Fadlôn Tripa dan baru membaca, setelah teks MoU Helsinki dikirim oleh Abdullah Ilyas via faxcimile kepada Tgk. Hasan M. Di Tiro pada 7/08/2005, jam 19:30 waktu Eropah dari Rotterdam, Belanda]

Yang sesungguhnya, laporan Nieuwhagen mau dijadikan sebagai salah satu alasan pembenar untuk menyerang dan tidak puas sebelum Aceh ditakluki serta disatukan ke dalam administrasi pemerintahan „Netherland East Indies.“ Padahal sudah diingatkan: ”menyatakan perang kepada Sultan Aceh dengan alasan pura-pura yang dicari-cari dan diada-adakan, paling banyak atas dasar yang tidak benar, yang dikarang-karang, sebagai “provokasi” semata-mata. Aceh akan melawan, jika kita serang” (Surat Multatuli kepada Raja Belanda.) ”Aceh bukan Jawa dan Siak”, kata Paul Van’t Veer, Perang Aceh. ”Saya khawatir jika kita serang Aceh, akan meruntuhkan wibawa, menelan kepahitan dan dimulainya kebangkrutan ekonomi yang sudah kita bangun beratus-ratus tahun lamanya.” (James Loudon, Gubernur Jenderal Hindia Belanda). Perang akhirnya, tidak bisa dielakkan dan dunia sudah tahu hasilnya. Ribuan serdadu Belanda mati konyol, termasuk panglima perang Belanda –Kôhler– mati!

Walaupun Belanda berkoalisi dengan Inggeris lewat ”traktat London”, 1871, yang salah satu pointnya menyebut: ”Inggeris memberi peluang kepada Belanda untuk menyerang Aceh dengan kekuatan militer dan wilayah koloni Belanda –Gold Coast (sekarang Ghana)– di Afrika diserahkan kepada Inggeris dengan syarat membayar kompensasi“ dan J. W. W. Birch, Gubernur/Panglima Inggeris di Singapura mengeluarkan maklumat:: “larangan bagi seluruh koloni Inggeris mengeksport perlengkapan perang ke Acheh” untuk menggebuk Aceh, tokh Aceh tidak gusar menghadapinya.

Sebenarnya Inggeris-Aceh, masih terikat dengan: „Perjanjian Perdagangan dan Bea Cukai di Selat Melaka tahun 1603 dan Perjanjian Perdamaian dan Pertahanan Keamanan di Selat Melaka tahun 1819.“ Aceh mengingatkan Pemerintah Inggeris supaya menunaikan tugasnya membantu Aceh berdasarkan Perjanjian yang disepakati. Namun, Lord Granville, Menteri Luar Inggeris pada waktu itu dalam jawabannya kepada Habib Abdul Rahman Zahir, Menteri Luar Negeri Aceh, pada 15 Juli 1873, bahwa: „Inggeris tidak mau memenuhi kewajibannya.“ Alasan mengkhianati Aceh karena Inggeris “sudah menanda tangani satu Perjanjian lain dengan Belanda yang isinya bertentangan dengan Perjanjian dengan Aceh.” Sebuhungan dengan ini, Majalah FRAZER’S MAGAZINE, menyifatkan „Traktat London 1871“ sebagai “satu dokumen yang paling tidak mempunyai rasa malu, yang pernah ditulis manusia”. Perjanjian Inggeris-Belanda, dimana barter antara Belanda-Inggeris disifatkan sebagai “satu tawar-menawar haram”. Bahkan Lord Standley Alderley (pembela Aceh), dalam Pidatonya, tgl. 28/07/1873, berkata: “Belanda tidak mempunyai alasan dan tidak mempunyai sebab untuk menyerang Aceh yang tidak berbuat apa-apa kepada Belanda. Sekarang Belanda sudah menyerang Aceh dan sudah dikalahkan dan digagalkan. Kejatuhan Aceh akan menyebabkan kehancuran kemuliaan kita di seluruh Asia Timur dan Asia Tengara; kekecewaan besar akan dirasakan oleh warga Inggeris di Asia Tenggara dan oleh orang-orang Melayu di Malaysia yang kesan baik dari mereka adalah sangat penting bagi kita. Perjanjian baru antara Inggeris–Belanda bukan saja merusakkan kemuliaan negara Inggeris, tetapi juga merusakkan kepentingan ekonomi kita. Sistem penjajahan Belanda di Jawa bukan saja berlawanan dengan kebebasan perdagangan, hampir tidak berbeda dengan perbudakan –Belanda menamakannya “kerja tidak bergaji”– sehingga tidak ada alasan sama sekali mengapa Inggeris mau menolong meluaskan sistem ini sampai ke Sumatera Utara, atau sekurang-kurangnya mengapa tidak dibuat pengecualian untuk Aceh, sebab negara Aceh berhak mengharap kita untuk tidak melupakan kemerdekaannya dari zaman purbakala dan sejarahnya yang gilang-gemilang, sebab Aceh sudah berdiri sebagai suatu negara merdeka ketika Belanda masih menjadi satu provinsi Sepanyol.”

Dalam sejarahnya, Belanda tidak pernah meng-ultimatum musuhnya terlebih dahulu, termasuk ketika mengalahkan Inggeris dalam medan perang Goodwin; menakluki wilayah Netherland East Indies, kecuali: kepada Aceh. Inilah fakta sejarah yang membuktikan bahwa Aceh adalah negara berdaulat suatu masa dahulu. Kisah ini bisa menyipat Aceh dalam takaran sejarah yang benar. Sebab, bangsa yang tidak tahu sejarahnya, tidak memiliki masa depan.

Mengapa Cabai Rasanya Pedas ???




Cabe atau cabai merupakan nama Indonesia dari tumbuhan bumbu tradisional penghasil rasa pedas yang umumnya berwarna merah menyala atau hijau tua. Jika cabe dibelah, maka kita akan menemukan tangkai putih di dalamnya yang mengandung zat capsaicin. 

Zat capsaicin ini seperti minyak dan menyengat sel-sel pengecap lidah. Zat capsaicin inilah yang mengakibatkan cabe menjadi terasa pedas dan panas di lidah saat kita mengkonsumsinya.



Selain itu, capsaicin ini juga dapat membuat para pengkonsumsinya merasa ketagihan dan kecanduan. Itulah alasan yang membuat banyak orang begitu menyukai, bahkan tidak mau berhenti mengkonsumsi cabe.

Jika dikonsumsi dalam jumlah terlalu banyak, cabe dapat mengakibatkan sakit perut yang dahsyat bagi pengkonsumsinya. Namun, jika dikonsumsi dalam jumlah wajar, cabe justru akan memberikan banyak manfaat bagi pengkonsumsinya, antara lain :

1. Cabe dapat meredakan pilek dan hidung tersumbat karena capsaicin dapat mengencerkan lendir. Sehingga lendir yang tersumbat dalam rongga hidung akan menjadi encer dan keluar. Akibatnya, hidung menjadi tidak tersumbat lagi.

2. Cabe dapat meringankan keluhan sakit kepala dan nyeri sendi. Karena rasa pedas dan panas yang ditimbulkan capsaicin akan menghadang pengiriman sinyal rasa sakit dari pusat sistem saraf ke otak. Sehingga, rasa sakit tersebut akan berkurang, bahkan hilang.

3. Cabe dapat memperkecil risiko terserang stroke, penyumbatan pembuluh darah, impotensi, dan jantung koroner. Karena dengan mengkonsumsi capsaicin secara rutin darah akan tetap encer dan kerak lemak pada pembuluh darah tidak akan terbentuk. Sehingga darah akan mengalir dengan lancar.

4. Cabe dapat meningkatkan nafsu makan pengkonsumsinya. Karena, capsaicin dapat merangsang produksi hormon endorfin, hormon yang mampu membangkitkan rasa nikmat dan kebahagiaan. Sehingga nafsu makan menjadi bertambah.

5. Cabe menghasilkan vitamin C dan provitamin A yang sangat diperlukan bagi tubuh.

6. Cabe memberikan kalsium dan fosfor bagi tubuh kita karena cabe banyak mengandung kedua zat tersebut.

7. Cabe dapat menghilangkan rasa dingin pada tubuh dengan cara mengoleskannya pada bagian yang terasa dingin.


Beberapa cara yang dapat dilakukan saat mengalami kepedasan antara lain :

1. Hisap dan kunyahlah makanan yang mengandung kasein. Karena kasein dapat melarutkan capsaicin sehingga rasa pedas pada lidah akan berkurang.
Contoh makanan yang mengandung kasein: susu bubuk, nasi, dan roti tawar.

2. Makanlah makanan yang mengandung minyak seperti gorengan. Karena minyak juga dapat melarutkan capsaicin.
Sebaliknya, hal yang harus kita hindari saat mengalami kepedasan adalah meminum minuman hangat atau bersoda. Karena, kedua minuman ini akan membuat rasa pedas dan panas menjadi semakin dahsyat.


Kepedasan cabe akan optimal apabila:
1. cabe tumbuh di daerah pegunungan (min 200m dpl);
2. cabe mendapatkan curah hujan yang cukup; dan
3. cabe terkena sinar matahari yang cukup selama 11-12 jam/ hari.

Berdasarkan faktor alam iklim tersebut, maka daerah yang paling cocok menjadi penghasil cabe berkualitas tinggi adalah Asia, meskipun sebenarnya cabe berasal dari Amerika. Oleh karena itu, Asia sering disebut sebagai rumah kedua cabe.



Diambil dari : Berbagai sumber

Mengapa Kita Menangis Saat Mengiris Bawang?




Pernahkah kalian menangis saat sedang membantu ibu mengiris bawang? Saat mengiris bawang merah atau bawah bombay orang cenderung mengeluarkan air mata. Mengapa bisa begitu?

Ternyata penyebabnya adalah minyak dalam bawang yang banyak mengandung zat sulfur. Zat itu menguap dengan sangat cepat. Jadi, saat bawang diiris, minyak dan sulfur berubah menjadi gas dengan sangat cepat. Gas itu mengenai mata dan rasanya sangat perih sehingga memicu keluarnya air mata.

Jika kalian tidak ingin menangis saat memotong bawang, ada triknya. 
Potong saja bawang di bawah aliran air, sehingga minyak dan sulfurnya mengalir bersama air dan tidak mengenai mata kalian.

Sebenarnya menangis itu juga bermanfaat. Saat menangis, air mata akan keluar dan akan membersihkan bakteri yang menempel di sekitar mata. Jika tidak dibersihkan, bakteri yang menempel di sekitar mata nantinya bisa menimbulkan penyakit.

Setiap hari, mata kita selalu mengeluarkan air mata, tetapi 
jumlahnya sangat sedikit. Yaitu sekitar setengah sendok teh. Air mata itu berguna untuk menjaga kelembaban mata, sehingga mata tidak kering.
• VIVAnews

Tipe Pemboran Horizontal

Berdasarkan besarnya pertambahan sudut pada lubang yang mengalami pertambahan sudut (rate radius of curvature), maka pemboran horisontal dibagi menjadi 4 tipe, yaitu :
1. Long radius system
2. Medium radius system
3. Short radius system
4. Ultra short radius system

1. Long Radius System Metode ini sering disebut dengan sistem pemboran horisontal konvensional. Pemboran long radius ini mempunyai laju pertambahan sudut yang kecil sekali, yaitu 2 – 6 / 100 ft.MD. Sudah tentu untuk mencapai titik awal bagian lubang yang horisontal dari KOP, diperlukan jarak yang sangat panjang yaitu antara 1500 – 4500 ft. Jarak pemboran atau ekivalen dengan radius kelengkungan 1000 – 3000 ft. Peralatan yang digunakan pada pemboran type ini paling sederhana diantara keempat type pemboran horisontal yang ada, karena peralatan pada pemboran ini merupakan peralatan pemboran konvensional yang susunannya telah dimodifikasi. Karena kesederhanaannya dan juga relatif mudah aplikasinya, pemboran horisontal tipe ini banyak sekali dilakukan, walaupun untuk mencapai titik sasaran yang sama diperlukan jarak pemboran yang jauh lebih panjang dibanding dengan ketiga tipe pemboran horisontal lainnya. Kelebihan dari penggunaan system long radius adalah :
? Dapat menghasilkan bagian lubang mendatar yang sangat panjang (>5000 ft).
? Peralatan pemboran yang digunakan adalah peralatan yang konvensional (hampir sama dengan directional drilling).
? Tingkat dog leg yang tidak terlalu tinggi.

Sedangkan kelemahan dari penggunaan sistem long radius adalah :
? Trayek yang harus dikontrol sangat panjang.
? Formasi-formasi di atas target harus ditembus pada jarak yang lebih panjang.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Free Web Hosting