***Welcome My Blog***

Selasa, 10 Mei 2011

Ulasan Percakapan Soekarno - Daud Beureueh

Jauh sebelum NKRI berdiri, Aceh Darussalam telah berdaulat sebagai sebuah kerajaan merdeka dan bahkan menjadi bagian dari kekhalifahan Turki Utsmaniyah. Hal ini sungguh-sungguh disadari Soekarno sehingga dia mengajak dan membujuk Muslim Aceh untuk mau bergabung dengan rakyat Indonesia guna melawan penjajah Belanda.

Saat berkunjung ke Aceh tahun 1948, Bung Karno dengan sengaja menemui tokoh Aceh, Daud Beureueh. Bung Karno selaku Presiden RI menyapa Daud Beureueh dengan sebutan “Kakanda (kakak)” dan terjadilah dialog yang sampai saat ini tersimpan dengan baik dalam catatan sejarah :

auh sebelum NKRI berdiri, Aceh Darussalam telah berdaulat sebagai sebuah kerajaan merdeka dan bahkan menjadi bagian dari kekhalifahan Turki Utsmaniyah. Hal ini sungguh-sungguh disadari Soekarno sehingga dia mengajak dan membujuk Muslim Aceh untuk mau bergabung dengan rakyat Indonesia guna melawan penjajah Belanda.

Saat berkunjung ke Aceh tahun 1948, Bung Karno dengan sengaja menemui tokoh Aceh, Daud Beureueh. Bung Karno selaku Presiden RI menyapa Daud Beureueh dengan sebutan “Kakanda (kakak)” dan terjadilah dialog yang sampai saat ini tersimpan dengan baik dalam catatan sejarah :


Soekarno

Presiden Soekarno : “Saya minta bantuan Kakak agar rakyat Aceh turut mengambil bagian dalam perjuangan bersenjata yang sekarang sedang berkobar antara Indonesia dan Belanda untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah kita proklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945.”

Daud Beureueh : “Saudara Presiden! Kami rakyat Aceh dengan segala senang hati dapat memenuhi permintaan Presiden asal saja perang yang akan kami kobarkan itu berupa perang sabil atau perang fisabilillah, perang untuk menegakkan agama Allah sehingga kalau ada di antara kami yang terbunuh dalam perang itu maka berarti mati syahid.”

Presiden Soekarno : “Kakak! Memang yang saya maksudkan adalah perang yang seperti telah dikobarkan oleh pahlawan-pahlawan Aceh yang terkenal seperti Teungku Cik Di Tiro dan lain-lain, yaitu perang yang tidak kenal mundur, perang yang bersemboyan merdeka atau syahid.”

Daud Beureueh : “Kalau begitu kedua pendapat kita telah bertemu Saudara Presiden. Dengan demikian bolehlah saya mohon kepada Saudara Presiden, bahwa apabila perang telah usai nanti, kepada rakyat Aceh diberikan kebebasan untuk menjalankan Syariat Islam di dalam daerahnya.”

Presiden Soekarno : “Mengenai hal itu Kakak tak usah khawatir. Sebab 90% rakyat Indonesia beragama Islam.”

Daud Beureueh : “Maafkan saya Saudara Presiden, kalau saya terpaksa mengatakan bahwa hal itu tidak menjadi jaminan bagi kami. Kami menginginkan suatu kata ketentuan dari Saudara Presiden.”

Presiden Soekarno : “Kalau demikian baiklah, saya setujui permintaan Kakak itu.”

Daud Beureueh : “Alhamdulillah. Atas nama rakyat Aceh saya mengucapkan terima kasih banyak atas kebaikan hati Saudara Presiden. Kami mohon (sambil menyodorkan secarik kertas kepada presiden) sudi kiranya Saudara Presiden menulis sedikit di atas kertas ini.”


Daud Beureu'eh

Mendengar ucapan Daud Beureueh itu Bung Karno langsung menangis terisak-isak. Airmata yang mengalir telah membasahi bajunya. Dalam keadaan sesenggukan,

Soekarno berkata, : “Kakak! Kalau begitu tidak ada gunanya aku menjadi presiden. Apa gunanya menjadi presiden kalau tidak dipercaya.” Dengan tetap tenang, Daud Beureueh menjawab, “Bukan kami tidak percaya, Saudara Presiden. Akan tetapi sekadar menjadi tanda yang akan kami perlihatkan kepada rakyat Aceh yang akan kami ajak untuk berperang.”

Sambil menyeka airmatanya, Bung Karno mengucap janji dan bersumpah,

Bung Karno bersumpah : “Waallah Billah (Demi Allah), kepada daerah Aceh nanti akan diberi hak untuk menyusun rumah tangganya sendiri sesuai dengan Syariat Islam. Dan Waallah, saya akan pergunakan pengaruh saya agar rakyat Aceh benar-benar dapat melaksanakan Syariat Islam di dalam daerahnya. Nah, apakah Kakak masih ragu-ragu juga?”

Daud Beureueh menjawab, : “Saya tidak ragu Saudara Presiden. Sekali lagi, atas nama rakyat Aceh saya mengucapkan banyak terima kasih atas kebaikan hati Saudara Presiden.”

Dalam suatu wawancara yang dilakukan M. Nur El Ibrahimy dengan Daud Beureueh, Daud Beureueh menyatakan bahwa melihat Bung Karno menangis terisak-isak, dirinya tidak sampai hati lagi untuk bersikeras meminta jaminan hitam di atas putih atas janji-janji presiden itu.

Soekarno mengucapkan janji tersebut pada tahun 1948. Setahun kemudian Acehbersedia dijadikan satu provinsi sebagai bagian dari NKRI. Namun pada tahun 1951, belum kering bibir mengucap, Provinsi Aceh dibubarkan pemerintah pusat dan disatukan dengan Provinsi Sumatera Utara.

Jelas, ini menimbulkan sakit hati rakyat Aceh. Aceh yang porak-poranda setelah berperang cukup lama melawan Belanda dan kemudian Jepang, lalu menguras dan menghibahkan seluruh kekayaannya demi mempertahankan keberadaan Republik Indonesia tanpa pamrih, oleh pemerintah pusat bukannya dibangun dan ditata kembali malah dibiarkan terbengkalai.

Bukan itu saja, hak untuk mengurus diri sendiri pun akhirnya dicabut. Rumah-rumah rakyat, dayah-dayah, meunasah-meunasah, dan sebagainya yang hancur karena peperangan melawan penjajah dibiarkan porak-poranda. Bung Karno telahmenjilat ludahnya sendiri dan mengkhianati janji yang telah diucapkannyaatas nama Allah. Kenyataan ini oleh rakyat Aceh dianggap sebagai kesalahan yang tidak pernah termaafkan.


Mohammad Said, Pengarang Buku "Aceh Sepanjang Abad Jilid Ke Dua"

23 komentar:

irwan suhendar ll mengatakan...

parah kali sukarno

bg teuku mengatakan...

Intruksi, saat sukarno datang menemui daud bereueh, aceh dalam keadaan merdekakah? Kalau iya, berarti sang tengku daud beurueh berjabat sebagai raja?
Ada yang ganjil dari percakapan diatas, dimana daud berueh berterimakasih karena suekarno memenuhi permintaan daud bereueh untuk menyusun pemerintahan sendiri sesuai syariat islam, pantaskah negara yang merdeka berterimakasih atas pengabulan permintaan dari seorang presiden(red:suekarno) yang kala itu meminta bantuan dari rakyat aceh untuk bergabung dan menolong indonesia? Sehingga saya mempertanyakan seperti apa level derajat Aceh terhadap indonesia kala itu?
Terimakasih, dan mohon maap atas pertanyaan bodoh saya

Anonim mengatakan...

Sebelum negara indonesia ada maka wilayah2 di nusantara itu dikuasai belanda termasuk aceh yang baru berhasil di taklukan penuh akhir 1800an, tahun 1942 belanda kalah dari jepang dan 1945 pada PD II, jepang kalah dari sekutu (belanda ada di dalamnya).

Saat jepang kalah dari sekutu maka status wilayah2 di nusantara itu merdeka secara otomatis (dalam artian tidak ada penguasanya), sampai kedatangan sekutu yang ada NICA di dalamnya untuk kembali menguasai nusantara.

Agustus 1945 gerakan di jakarta mendirikan negara baru bernama indonesia yang mengklaim wilayahnya berupa bekas hindia belanda dahulu (dari sumatera sampai papua). Tapi klaim ini tentu perlu pengakuan internasional dan juga pengakuan dari daerah2 yang di klaim sebagai negara indonesia, kenapa ??

Karena sebelum dan saat belanda datang, wilayah2 di nusantara sudah memiliki penguasa dan pemerintahan yang berperang melawan belanda, yang sebelum di kalahkan belanda mereka merdeka dan berdaulat penuh (kebanyakan menggunakan sistem kesultanan).

Nah logikanya saat belanda dan jepang pergi yang paling pantas untuk kembali berkuasa adalah para sultan atau tokoh masyarakat, namun karena bersatu itu lebih dirasa besar manfaatnya di bandingkan sendiri2 maka para tokoh masyarakat yang mewakili rakyat wilayah2 itu setuju untuk bergabung dengan negara baru bernama indonesia, hal itu bukan hanya terjadi di aceh tetapi juga pada kesultanan di jawa seperti keraton di yogya yang sampai kini masih eksis dan memiliki pasukannya sendiri, dimana sultannya setuju bergabung dengan indonesia.

Jadi level aceh sebagai sebuah daerah yang bebas karena ditinggal belanda dan jepang bisa saja kembali menjadi kesultanan aceh dan mengangkat seseorang semisal daud berueh sebagai pemimpinnya, dan soekarno sebagai pemimpin indonesia tidak bisa berbuat apa - apa karena memang posisi indonesia dan aceh saat itu sama yaitu sama - sama wilayah bebas dari penguasa belanda dan jepang namun sejarah pengatakan aceh setuju untuk bergabung dengan indonesia.

Karenanya jangan bayangkan indonesia saat itu (tahun 1945), seperti indonesia sekarang yang memiliki militer kuat dan mampu mengendalikan wilayahnya secara penuh, bahkan papua saja baru bergabung tahun 1950 saat indonesia cukup kuat untuk menyerang pangkalan belanda di papua sana.

Jamadil Supra mengatakan...

Persis seperti cerita Adam Hawa dan Iblis..

Anonim mengatakan...

Sebenarnya taktik "nangis" nya So*karn* tdk sekali itu dia lakukan. Sebelumnya pd rapat BPUPKI dia lakukan hal yang sama namun sptnya tdk berhasil memperlunak para tokoh islam ketika itu. Sehingga tetap dihasilkan piagam jakarta yg memasukkan kata2 penerapan syariat islam. Piagam jakarta lah yg seharusnya dibacakan pd saat proklamasi negara ini bukan teks singkat yg diketik terburu2 tsb yg ditandatangani hanya 2 org. Teks proklamasi yg ada dimonas saat ini jelas bkn hasil rapat2 BPUPKI. Piagam jakarta ditandatangani 9 tokoh yg hadir di rapat BPUPKI termasuk So*karn* tapi dia sendiri yg akhirnya tdk memakai piagam tsb sbg teks proklamasi dan dasar negara ini dibentuk. Penghilangan 7 kata dlm piagam jakarta jelas merupakan pengkhianatan kelompok nasionalis pd kel. islam.

sidig mengatakan...

Ntah konspirasi siapa/apa yg menangkat Soekarno ini jadi presiden, dilihat dr sejarah perjuangan Jendral Soedirman lebih pantas sebagai presiden RI.

faqadh mengatakan...

Atjeh akan tetap merdeka dari nkri

Anonim mengatakan...

Tolong ajak sumatera taman2 aceh. aceh dan sumatera adalah bagian dari malaysia bagian dari keluarga besar rumpun melayu, kami juga benci kepada masyarakat jawa yang suka membuka aurat disini, kami takut budaya melayu memakai kain akan berubah menjadi celana pendek tidak senonoh.

Ijal ASNLF/AM mengatakan...

Luar biasa

Andre derian mengatakan...

Dari ulasan salah satu sejarah Aceh untuk Indonesia diatas, Aceh memang tidak pernah dikuasai oleh belanda maka dari itu Presiden soekarno datang ke Aceh untuk memohon bantuan rakyak Aceh untuk bergabung berperang melawan Belanda yg terjadi pada massa itu jogja kembali di bombardir oleh penjajah Belanda dengan sebutan "Agresi militer belanda II" dan Aceh menyetujui permintaan presiden Soekarno untuk berperang terhadap belanda, juga pada masa sebelumnya indonesia juga sudah merdeka dari penjajah jepang yg negerinya pada massa itu di bom atom oleh pihak Militer Amerika. Setelah jepang keluar dari indonesia belanda kembali ke indonesia dan melancarkan serangan militer yg disebutkan diatas tadi yaitu "Agresi militer belanda II", setelah luncuran belanda ke 2 waktu itu ibukota RI berada di yogyakarta, Soekarno mengasingkan diri Ke Aceh dengan menumpang pesawat Seulawah RI 001 sumbang rakyat Aceh untk indonesia dan mendarat dengan mulus di lapangan terbang cot gapu Bireuen. Karena pada masa itulah soekarno berada 1 minggu di Bireuen Aceh dan bireuen dijadikan ibukota RI seminggu, karena pada masa itu juga Aceh adalah tempat yg Paling aman untuk presiden melanjutkan kepemimpinannya untuk kemerdekaan RI, di Aceh presiden bertemu dengan Daud Breueh dan memohon Aceh untuk turut membantu berperang terhdap belanda dan Aceh bersedia membantu presiden Soekarno dengan janji2 presiden terhadap Aceh yg sampai saat ini masih membara di hati rakyat Aceh yg tidak di tepati oleh presiden. Aceh adalah negera modal bagi bangsa ini dari sebelum Aceh bergabung dngan RI dan sebelum RI mendapatkan persetujuan kemerdekaan Dari pihak Belanda Aceh, Aceh lah yg telah memerdekakan Indonesia dari pihak belanda karena belanda tidak pernah bisa menjajah dan menguasai Aceh. Tapi itu hanyalah sejarah dan sejarah itu terlupakan karena soekarno tidak mau membuat bukti persetujuan membawa rakyat Aceh turut membantu Indonesia melawan Belanda. Bukti penghianatan itulah membuat seluruh rakyat Aceh dan Pemimpin2 Aceh merasa dipermainkan. Maka dari itulah memunculkan Gerakan Aceh Merdeka. Sudah sepantasnya Aceh melepaskan dari Indonesia karena penghianatan dari presiden. "TIDAK ADA ACEH MAKA TIDAK ADA INDONESIA".

rakan meusaho mengatakan...

Indonesia tidak akan pernah tenang,pejabat tak pernah hilang terseret kurupsi,rakyat tak pernah hilang dari kemiskinan,dan bahkan di tindas oleh bangsa sendiri,itu semua buah hasil dari janji sukarno yang tak di tepati,Alam semesta ciptaan Allah,bahkan dia sendiri di ciptakan oleh Allah,bersumpah demi Allah dan di langgar,tak tau lagi kata kata apa yang harus di ucapkan,semoga cepat kiamat..

u din mengatakan...

Stres y

Zain Al Arabi mengatakan...

DAUD BEREUEH.. MENJUAL ACEH DEMI JADI GUBERNUR.. ITU FAKTA NYA

Dini septiani mengatakan...

artikel yang snagat bagus. sangat berwawasan

Anonim mengatakan...

Kl cuma Jd gubernur sih udah diakuin kali secara De facto oleh masyarakat aceh, tanpa harus "jual" aceh. Fakta berdasar sejarah yang dibuat siapa? Oleh pihak yang ingin memojokkan Daud Bereueh? Ya iya lah pasti "dianggap fakta" buat mereka...

PT. Sabata Karya Kencana mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
jo as mengatakan...

BANGSA JAWA BANGSAT!
MENJAJAH SUKU DAN PULAU2 LAIN DIINDONESIA.

SIALLLLL LU JAWA ANGJING!

jo as mengatakan...

BANGSA JAWA BANGSAT!
MENJAJAH SUKU DAN PULAU2 LAIN DIINDONESIA.

SIALLLLL LU JAWA ANGJING!

MirzStory mengatakan...

DAUD BEREUEH Kalah Saing Untuk jadi pemimpin Aceh Lalu mau Kudeta tetapi GAGAL lalu bergabug dgn Soekarno untuk menjadikan wilayah aceh sebagai indonesi setelah bergabung janji soekarno terhadap DAUD BEREUEH untuk menjabat gubernur tidak tereleasi lalu DAUD BEREUEH murka ingin ajak kudeta NKRI tetapi Atjeh Tidak Setuju karena Sudah jadi Bagian NKRI lalu dibunuh la salah satu tokoh pemimpin ?? namanya lupa...

Anonim mengatakan...

Haha hebat dong orang jawa.. Hebat lg tionghoa

Ludvi mengatakan...

Sosok idola yang sangat karismatik

Full Zero mengatakan...

Kl saya jadi daud beureuh saya hnya mmberikan bntuan berupa pinjaman tdk lebih itu dan pnjaman itu dapat dbayar stlah indon merdeka kpd negara aceh

Amry Palu mengatakan...

( PERTANYAAN)
Kenapa Aceh ingin Merdeka.?
Karena Banyak skali pemimpin2 indonesia Rakus dengan kekuasan .Kacang Lupa pada kulit nya.

Kenapa Indonesia Mempertahankan??
karena 90% Hasil Bumi Aceh telah terbukti. tanah yg begitu Subur. Dari Hasil bumi Aceh mereka dapat Membeli Peralatan tentara. Pesawat. Senjata. Serta berBagai Macam Yg dibutuhkan.
Termasuk Gaji Para kantoran.
Sampai Pejabat lain nya .

Dan Termasuk Emas Dipuncak Monas. Itu bukan Punya Mas2 jawa. itu Hadiah Dari Orang Aceh

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Free Web Hosting